Selasa, 19 November 2013

Hakikat dan Model Desain Pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Desain atau perencanaan merupakan sesuatu hal yang begitu penting bagi seseorang yang akan melaksanakan tugas atau pekerjaannya, termasuk guru yang memiliki tugas/pekerjaan mengajar (mengelola pengajaran). Supaya seorang guru dapat menyusun perencanaan pengajaran dengan baik, maka harus memperhatikan prinsip-prinsip pengajaran dan memahami strategi pengajaran. Dengan munculnya era globalisasi di penghujung milenium kedua ini, telah membawa wawasan dan kesadaran masyarakat, dengan muncul sejumlah harapan sakaligus kecemasan. Harapan-harapan ini karena ada perbaikan kualitas hidup dan kehidupan di satu sisi sebagai akibat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta informasi dan teknologi (INFOTEK), dan di sisi lain muncul juga kecemasan-kecemasan,  Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan yang terlalu cepat menyebabkan kondisi masyarakat  sulit beradaptasi di dalamnya.
Pendidik dituntut untuk menyediakan kondisi belajar untuk peserta didik untuk mencapai kemampuan-kemampuan tertentu yang harus dipelajari oleh subyek didik. Dalam hal ini peranan desain pesan dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena desain pesan pembelajaran menunjuk pada proses memanipulasi, atau merencanakan suatu pola atau signal dan lambang yang dapat digunakan untuk menyediakan kondisi untuk belajar.
            Peningkatan mutu pendidikan terus digalakkan baik ditingkat pusat maupun daerah. Seiring dengan perkembangan kebutuhan masyarakat baik lokal maupun global, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka diadakan pengembangan di bidang pendidikan, yang sekarang kita kenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).  Dewasa ini setiap satuan pendidikan secara bertahap harus melaksanakan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada delapan standar nasional pendidikan, yang meliputi :                                                                
1.      Standar isi;
2.      Standar proses;
3.      Standar kompetensi lulusan;
4.      Standar pendidik dan tenaga kependidikan;
5.      Standar sarana dan prasarana;
6.      Standar pengelolaan;
7.      Standar pembiayaan;
8.      Standar penilaian pendidikan.[1]

1.2 Rumusan Masalah
Agar pembahasan di dalam makalah ini tidak lari dari sub judulnya, ada baiknya penyusun merumuskan masalah-masalah apa saja yang akan dijelasakan dan diuraikan. Antara lain :
ü Pengertian desain pembelajaran;
ü Pengertian desain intruksional;
ü Kriteria desain intruksional;
ü Hubungan perencanaan dengan desain pembelajaran;
ü Model-model desain intruksional.

1.3 Tujuan Penulisan
            Ada beberapa tujuan penyusun dalam menulis makalah ini, diantaranya :
ü  Mahasiswa mampu mengerti dan memahami konsep desain pembelajaran dan desain intruksional;
ü  Mahasiswa mangetahui kriteria desain intruksional;
ü  Mahasiswa mengetahui hubungan perencanaan dengan desain pembelajaran;
ü  Mahasiswa mangerti dan memahami model-model desain intruksional.

1.4 Metode Penulisan           
Metode yang digunakan penulis adalah metode kepustakaan yaitu memberikan gambaran tentang materi-materi yang berhubungan dengan permasalahan melalui literatur buku-buku yang tersedia, tidak lupa juga penulis ambil sedikit dari media massa/internet. Dan diskusi mengenai masalah yang dibahas dengan teman-teman.
           





BAB II
PEMBAHASAN

HAKIKAT DAN MODEL DESAIN PEMBELAJARAN
2.1 Pengertian Desain Pembelajaran
            Desain adalah sebuah istilah yang diambil dari kata design yang berarti perencanaan atau rancangan. Ada pula yang mengartikan dengan “Persiapan”. Di dalam ilmu manajemen pendidikan atau ilmu administrasi pendidikan, perencanaan disebut dengan istilah planning yaitu “Persiapan  menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu”.[2] Herbert Simon (Dick dan Carey, 2006), mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah. Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia.
Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan. Melalui suatu desain orang bisa melakukan langkah-langkah  yang sistematis untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Dengan demikian suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespons kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.[3]
 




Gambar : Desain pembelajaran sebagai proses
 Sistematis.

Dalam arti luas, pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) denga peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan.[4]  Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran.[5]
Pembelajaran juga diartikan dengan usaha untuk memberdayakan semua potensi anak didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran harus mampu mendorong untuk terbentuknya kemampuan, yaitu mengetahui, memahami, melakukan sesuatu dan mengaktualisasikan diri.[6] Agar kemampuan tersebut dapat dibentuk, maka kegiatan pembelajaran harus memperhatikan prinsip sebagai berikut :


 











            Desain pembelajaran sendiri menurut Shambaugh (2006) yang dikutip oleh Wina Sanjaya adalah “ An intellectual process to help teachers systematically analyze learner needs and construct structures possibilities to responsively address those needs.” Jadi dengan demikian, suatu desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut.[7] Sejalan dengan pengertian di atas, Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, di mana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang.
Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua factor yakni faktor internal dan faktor eksternal. Factor internal adalah factor yang berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar. Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan  kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar. Menurut Gagne, kondisi internal dapat dibangkitkan oleh pengaturan kondisi eksternal.[8]

2.2 Pengertian Desain Intruksional
            Intruksional berasal dari kata intruction yang berarti pengajaran, pelajaran, atau bahkan perintah/intruksi.[9] Menurut Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH intruksinal berarti memberi pengetahuan/informasi khusus dengan maksud melatih berbagai bidang pengetahuan, dalam bidang pendidkan intruksional berarti pengajaran/pelajaran.[10] Menurut Ade Lukman S.Pd.I desain instruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Hasil akhir dari pengembangan instruksional ialah suatu sistem instruksional, yaitu materi dan strategi belajar mengajar yang dikembangkan secara empiris dan konsisten untuk dapat mencapai tujuan instruksional tertentu.
Desain instruksional ini terdiri dari seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengembangan, dan evaluasi terhadap sistem instruksional yang sedang didesain, sehingga setelah mengalami beberapa kali revisi, sistem instruksional tersebut dapat memuaskan hati pendesainnya.[11] Dalam konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan.[12]
Desain Instruksional sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan pendekatan sistem Instruksional. Pendekatan sistem dalam Instruksional lebih produktif untuk semua tujuan Instruksional, di mana setiap komponen bekerja dan berfungsi untuk mencapai tujuan Instruksional. Komponen seperti instruktur, peserta didik, materi, kegiatan Instruksional, sistem penyajian materi, dan kinerja lingkungan belajar saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mewujudkan hasil Instruksional pebelajar yang dikehendaki.
Dari beberapa pengertian diatas, maka desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan yang harus dicapai atau hasil belajar yang diharapkan, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik, dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.[13]
2.3 Kriteria Desain Intruksional
            Desain intruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria di antaranya :
a.       Berorientasi pada siswa
Mendesain pembelajaran perlu diawali dengan melakukan studi pendahuluan tentang siswa. Beberapa hal yang perlu dipahami tentang siswa di antaranya :
·         Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan dasar yang dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki siswa.
·          Gaya belajar
Gaya belajar setiap siswa memiliki perbedaan, ada yang bertipe auditif, visual dan kinetetis. Siswa yang bertipe auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran, dengan demikian desain pembelajaran dirancang agar siswa lebih banyak mendengar melalui berbagai media, misal radio atau tape recorder.
b.      Berpijak pada pendekatan sistem
System adalah satu kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan system, bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari  ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui pendekatan system dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
c.       Teruji secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain intruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yang mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi.[14]
2.4 Hubungan Perencanaan dan Desain Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran berbeda dengan Desain Pembelajaran, namun  keduannya memiliki hubungan yang sangat erat sebagai program pembelajaran. Perencanaan pembelajaran disusun untuk kebutuhan guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Dengan demikian, perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah kedalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Walaupun perencanaan pembelajaran berkaitan dengan desain pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa.
Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga; sedangkan pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran.
2.5 Model-model Desain Intruksional
            Pada system intruksional, kita dihadapkan kepada tiga buah pertanyaan penting, yakni bagaimana cara mendesain suatu program, struktur program yang bagaimana yang akan dipergunakan, dan pola mengajar apa yang akan diterapkan sehubungan dengan pelaksanaan program yang telah didesain itu.[15] Di muka telah dijelaskan bahwa desain sistem pembelajaran berbeda dengan perencanaan sistem pembelajaran. Walaupun perencanaan pembelajaran berkaitan dengan desain pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda.[16] Ada beberapa model-model desain intruksional yang dapat ditawarkan, antara lain:
1.        Model Kemp
Rounded Rectangle: REVISIModel desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Model sistem instruksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen mana seharusnya guru memulai proses pengembangan. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal. Model desain yang dikembangkan Kemp dapat digambarkan sebagai berikut:
 





















Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah :
a.       Hasil yang ingin dicapai;
b.      Analisis tes mata pelajaran;
c.       Tujuan khusus belajar;
d.      Aktivitas belajar;
e.       Sumber belajar;
f.       Layanan pendukung;
g.      Evaluasi belajar;
h.      Tes awal;
i.        Karakteristik belajar.[17]
Kesembilan komponen itu merupakan siklus yang terus-menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi sumatif maupun evaluasi formatif, serta diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas dan berbagai kendala yang muncul. Menurut sumber lainnya, model Kemp merupakan sistem pengajaran yang sederhana yang mana dibagi menjadi delapan langkah yaitu :
a.       Menentukan tujuan instruksional umum, yaitu tujuan yang ingin dicapai untuk masing-masing pokok pembahasan;
b.      Menganalisis karakteristik peserta didik;
c.       Menentukan tujuan instruksional khusus;
d.      Menentukan materi pelajaran sesuai dengan tujuan intruksional khusus yang telah dirumuskan;
e.       Menetapkan pengajaran awal;
f.       Menentukan strategi belajar mengajar dan sumber belajar yang sesuai dengan tujuan intruksional khusus;
g.      Mengkoorsinasi sarana penunjang yang meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga;
h.      Mengadakan evaluasi untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan.[18]

2.      Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional)
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.[19] PSSI merupakan perwujudan dari penerapan pendekatan ke dalam sistem pendidikan, yaitu sebagai suatu kesatuan yang terorganisasi yang terdiri dari sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.[20] PPSI dapat digambarkan sebagai berikut :

a.       Merumuskan tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni tujuan harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.;
b.      Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah perumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan;
c.       Mengembangkan kegiatan belajar-mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh;
d.      Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran;
e.       Pelaksanaan program, yakni kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.[21]
3.      Model Banathy
Model desain system pembelajaran dari Banathy berbeda dengan model-model sebelumnya. Model ini memandang bahwa penyusunan system instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a.       Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun tujuan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik;
b.      Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya;
c.       Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan mengiventasikan seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan;
d.      Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan;
e.       Mengimplementasikan dan melakukan control kualitas system, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas system, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi;
f.       Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.[22]

Model Banathy dapat digambarkan sebagai berikut :















Rounded Rectangle: VI. Perubahan/perbaikan
Rounded Rectangle: II. Kriteria Tes




Rounded Rectangle: III. Menganalisa dan merumuskan kegiatan
a.	Inventarisasi kegiatan belajar
b.	Menilai kemampuan
c.	Indetifikasi kegiatan belajar

Rounded Rectangle: V. Implementasi & Kontrol Kualitas
a. Latihan sistem
b. Penempatan
c. Evaluasi




Oval: PROSES PELAKSANAAN
 












            Jika kita lihat langkah 1 dan 4 merupakan tahapan dalam rangka proses rancangan, sedangkan tahap 5 dan 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan sesudah dirumuskan.[23]
4.      Model Dick dan Cery
Model dick and cery harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara  optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah akhir dari desain ini adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi   formatif dan evaluasi sumatif.[24] Model Dick and Cery termasuk ke dalam model prosedural. Langkah-langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah :
a.       Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran;
b.      Melaksanakan analisi pembelajaran;
c.       Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa;
d.      Merumuskan tujuan performansi;
e.       Mengembangkan butir–butir tes acuan patokan;
f.       Mengembangkan strategi pembelajaran;
g.      Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran;
h.      Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif;
i.        Merevisi bahan pembelajaran;
j.        Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.[25]
Model Dick and Carey terdiri dari 10 langkah, setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, sistem yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya.
Langkah awal pada model Dick and Carey adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan. Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui di  mampu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran, adanya hubungan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, menerangkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
             Pendidikan merupakan masalah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan adanya pendidikan berarti akan melahirkan manusia yang kreatif dan mempunyai ide-ide yang cemerlang dalam mengisi masa depan yang lebih maju. Potensi yang ada pada diri manusia akan berkembang menjadi pribadi yang baik, apabila dia manfaat kan dengan sebaik mungkin kearah yang positif. Kurikulum terus berubah karena potensi siswa, kondisi pendidikan, persaingan global, persaingan pada kemampuan SDM dan persaingan terjadi pada lembaga pendidikan. Oleh karena itu guru dituntut harus mampu: (a) Menggunakan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. (b) Mengenalkan dan menyajikan sumber belajar. (c) Menerangkan peranan berbagai sumber belajar dalam pembelajaran. (d) Menyusun tugas-tugas penggunaan sumber belajar dalam bentuk tingkah laku. (e) Mencari sendiri bahan dari berbagai sumber. (f) Memilih bahan sesuai dengan prinsip dan teori belajar. (g) Menilai keefektifan penggunaan sumber belajar sebagai bagian dari bahan pembelajarannya. (h) Merencanakan kegiatan penggunaan sumber belajar secara efektif.        
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembengan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas
            Komponen utama dari desain pembelajaran adalah:  Pembelajar (pihak yang menjadi fokus) yang perlu diketahui meliputi, karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat. Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) Adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar. Konsep tujuan pengajaran atau pembelajaran menitik beratkan pada tingkah laku siswa atau perbuatan (performace) sebagai suatu jenis output yang terdapat dari siswa, yang dapat diamati dan menunjukan bahwa siswa tersebut telah melakukan kegiatan belajar.
Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Model berorientasi kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih.
3.2 Kritik & Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penyusun nanti dalam upaya evaluasi diri. Akhirnya penulis hanya bisa berharap, bahwa dibalik ketidaksempurnaan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi penulis, pembaca. Sehingga teman-teman yang akan menjadi seorang guru profesional dibidang ilmu masing-masing untuk memberi saran dan  perbaikan terhadap makalah yang saya buat ini,  Sehinggga nantinya makalah ini bisa dijadikan sedikit acuan dalam pembuatan desain pembelajaran disekolah kita masing-masing.   
























DAFTAR PUSTAKA

UUD tentang Standar Nasional Pendidikan, No 19 tahun 2005, Jakarta : Depdiknas, 2005.
Rohani, Ahmad, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004.
Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008.
Arifin, Zainal, Evaluasi Pembelajaran, Jakarta : Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2009.
Supriatna, Dadang, Konsep Dasar Desain Pembelajaran, PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TAMAN KANAK KANAK DAN PENDIDIKAN LUAR BIASA, 2009.
Limbong, Masdar, Perencanaan Pembelajaran Agama Islam, Medan : STAI Al-Hikmah, 2009.
Hamelik, Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2005.
Yamin, Martinis, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta : Gaung Persada, 2011.

Dailami Firdaus, pengertian, strategi, metode intruksinal, diunggah pada tanggal 15-03-2013 dalam sebuah situs 9.            http://dailani.blogspot.com/2008/02/strategi-intruksional.html
Ade Lukman, Model desain Intruksional, diunggah pada tanggal 15-03-2013 dalam sebuah situs http://adelukmanhakim13.blogspot.com/2011/12/model-desain-instruksional.html



[1] UUD tentang Standar Nasional Pendidikan, No 19 Tahun 2005,  Jakarta: Depdiknas, Hal : 10
[2] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004, hal : 67
[3] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 64-65
[4] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, Jakarta : Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2009, hal : 10
[5] Dadang Supriatna, Konsep Dasar Desain Pembelajaran, PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TAMAN KANAK KANAK DAN PENDIDIKAN LUAR BIASA, 2009, hal : 4
[6] Masdar Limbong, Perencanaan Pembelajaran Agama Islam, Medan : STAI Al-Hikmah, 2009, hal : 16
[7] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 67
[8] Ibid, hal : 66
[9] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004, hal : 68
[10] Dailami Firdaus, pengertian, strategi, metode intruksinal, diunggah pada tanggal 15-03-2013
[11] Ade Lukman, Model desain Intruksional, diunggah pada tanggal 15-03-2013
[12] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 66
[13] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 67
[14] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 68-69
[15] Oemar Hamelik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2005, cetakan ke-4, hal : 59
[16] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 69
[17] Ibid, hal : 71-72
[18] Ade Lukman, Model desain Intruksional, diunggah pada tanggal 15-03-2013
[19] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 75-76
[20] Ade Lukman, Model desain Intruksional, diunggah pada tanggal 15-03-2013
[21] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 76-77, lihat juga Oemar Hamelik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2005, cetakan ke-4, hal : 74-75
[22] Ibid, hal : 73
[23] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 73
[24] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran , Jakarta : Kencana Prenada  Media Group, 2008, hal : 75
[25] Martinis Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta : Gaung Persada, 2011,hal : 169

1 komentar: